Agen Tiket Pesawat di Kutai

Agen Tiket Pesawat di Kutai Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Kutai

Agen Tiket Pesawat di Malang

Agen Tiket Pesawat di Malang Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Malang

Agen Tiket Pesawat di Yogyakarta

Agen Tiket Pesawat di Yogyakarta Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Yogyakarta

Agen Tiket Pesawat di Bandung

Agen Tiket Pesawat di Bandung Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Bandung

Agen Tiket Pesawat di Pontianak

Agen Tiket Pesawat di Pontianak Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Pontianak

Agen Tiket Pesawat di Samarinda

Agen Tiket Pesawat di Samarinda Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Samarinda

Agen Tiket Pesawat di Palembang

Agen Tiket Pesawat di Palembang Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Palembang

saco-indonesia.com, Salah satu hal yang telah dikhawatirkan banyak orang ketika mereka beranjak tua adalah daya ingat yang semak

saco-indonesia.com, Salah satu hal yang telah dikhawatirkan banyak orang ketika mereka beranjak tua adalah daya ingat yang semakin menurun serta penyakit otak lain seperti demensia dan Alzheimer. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk dapat meningkatkan dan menjaga daya ingat. Salah satunya adalah dengan mengonsumsi makanan yang tepat.

Penelitian telah menunjukkan kaitan antara daya ingat dengan makanan-makanan tertentu. Berikut adalah beberapa makanan yang bisa dikonsumsi untuk dapat meningkatkan daya ingat.

1. Brokoli
Beberapa sayuran seperti brokoli, kubis brussel, kubis, kembang kol, dan bokchoy diketahui dapat memberikan efek yang sangat besar untuk otak. Sayuran ini dapat membantu menjaga kesehatan otak dan meningkatkan daya ingat.

2. Buah berry
Makanan yang mengandung anthocyanin dan quercetin seperti buah berry, bawang putih, bawang merah, tomat ceri, blueberry, apel, dan lainnya juga merupakan makanan yang baik untuk dapat menjaga daya ingat. Makanan ini juga dapat membantu orang untuk lebih mudah mengingat.

3. Sayuran berdaun hijau
Sayuran berdaun hijau seperti bayam dan kale juga bisa membantu Anda untuk dapat mengingat lebih baik. Diketahui bahwa sayuran ini akan dapat membantu Anda mengingat apa yang sudah Anda baca dan didengarkan.

4. Asam folat
Kandungan homocysteine pada darah bisa menurunkan daya ingat seseorang. Namun jika Anda mengonsumsi makanan yang kaya asam folat, ingatan Anda akan terlindungi. Asam folat dikaitkan dengan proses informasi yang lebih cepat dan dapat memudahkan seseorang untuk mengingat kembali apa yang sudah dipelajari atau diingatnya. Beberapa makanan yang mengandung asam folat antara lain buah bit, jeruk, kacang kedelai, bayam, buncis, dan lainnya.

5. Ikan
Penelitian terbaru telah mengungkap bahwa asam lemak pada minyak ikan juga sangat baik untuk dapat memperkuat otak dan daya ingat. Minyak ikan tak hanya membantu Anda terlihat lebih muda melainkan juga memperlambat penuaan pada otak.

Itulah beberapa makanan yang diketahui bisa meningkatkan daya ingat. Mengonsumsi makanan di atas akan dapat membuat otak Anda bekerja lebih baik dan menangkal penyakit yang berkaitan dengan ingatan. Selamat mencoba!


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Sebuah bus yang telah berisi puluhan penumpang terjun bebas ke dalam sungai Wonoboyo, Kecamatan Bergas, Sema

saco-indonesia.com, Sebuah bus yang telah berisi puluhan penumpang terjun bebas ke dalam sungai Wonoboyo, Kecamatan Bergas, Semarang. Diduga sopir telah mengantuk saat mengemudikan bus yang bernama Bus Gunung Harta tersebut.

"Kejadian tadi sekitar jam 02.00 WIB dini hari . Diduga sopir mengantuk," ujar petugas piket Polsek Bergas Aiptu Nyoman, saat dihubungi, Selasa (31/12).

Nyoman juga mengatakan saat itu bus tengah mengangkut penumpang yang cukup banyak. "Sekitar puluhan penumpang yang ada di dalam bus," tuturnya.

Petugas juga sudah melakukan evakuasi terhadap bus malang beserta para penumpang.
Para korban sendiri telah dilarikan ke Rumah Sakit Ken Saras, Ungaran, Semarang.

Menurut Nyoman, Bus Gunung Harta yang telah mengalami kecelakaan itu sedang dalam perjalanan dari Jakarta menuju Ponorogo, Jawa Tengah.


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Kebanyakan orang tidak percaya diri menjual karena harus bertatap muka dan pandai berkata-kata secara langsung dengan prospek. Untungnya sekarang ada internet. Berkat internet, anda bisa mulai bisnis internet meski tanpa harus bertemu langsung. Anda bisa berjualan sampai ke ujung dunia, cukup dari rumah sendiri.

saco-indonesia.com, Berikut ini delapan tips belajar cara menjual yang sukses. Mari simak…

  • ACTION. Seperti kalau anda ingin bisa berenang, anda harus ACTION berenang. Nyemplung ke dalam kolam, dan mulai belajar renang. Begitupun kalau anda mau pintar berjualan, anda harus mulai menjual. Jika anda tak pernah mencoba menjual, anda tak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjual. Yang perlu anda lakukan hanyalah cari produk dan tawarkan ke orang. Baik anda lakukan itu secara online maupun offline.
    Dan tak perlu peduli seandainya anda belum berhasil menjual di kesempatan pertama. Ndableglah! Tetap semangat tawarkan produk anda sampai terjadi penjualan!
  • Antisipasi penolakan. Ditolak saat anda hendak menjual itu sudah biasa. Yang penting, anda tahu apa alasan mereka menolak penjualan anda. Biasanya orang menolak karena misal tidak punya uang, tidak suka produknya, dan sebagainya. Karena itu, anda harus siapkan jawaban untuk semua penolakan itu.
  • Siapa prospek anda. Kenali siapa orang yang mau anda tawari produk anda. Mengenali prospek amat penting agar anda bisa menjual dengan lebih efektif.
  • Yakin. Yakinlah kalau anda bisa menjual. Saat menawarkan yakinlah kalau anda bisa closing. Yakinlah bahwa anda punya penawaran yang dahsyat.
  • Tawarkan ke lebih banyak orang. Ilmu menjual sebenarnya sederhana. Semakin banyak yang anda tawari, semakin besar penjualan tercipta. Jadi, rajinlah untuk mencari prospek.
  • Jangan pernah menyerah. Tidak mudah patah semangat. Terus jual, jual, dan jual! Tak ada satupun yang akan membuat semangat anda turun.
  • Jangan anggap sales. Saat anda menawarkan, jangan pernah menganggap anda sebagai sales sekalipun itu posisi anda. Sebab akan banyak yang memandang sebelah mata. Sebaliknya, bersikaplah seperti CEO. Bayangkan anda sebagai CEO dan anda akan terlihat berbeda.
  • Cek suara. Cek 1, 2, 3! ya, seperti kalau anda cek sound, suara anda harus mantap. Jangan sampai suara anda terdengar membosankan. Suara yang mengesankan ini penting kalau anda ketemu orang langsung maupun untuk video/audio marketing.
    Anda bisa rekam suara anda dan putar ulang untuk mengetahui bagaimana suara anda. Minta pendapat dari teman bagaimana mengenai suara anda tersebut.

Inilah delapan tips cara belajar menjual agar berhasil. Mari praktekkan.

Salam ACTION!

saco-indonesia.com, Cara Memilih Kayu Jati Yang Berkualitas Kursi Teras Jati Yuyu Jepara Cara Memilih Kayu Jati Yang Berkual

saco-indonesia.com,

Cara Memilih Kayu Jati Yang Berkualitas
Kursi Teras Jati Yuyu Jepara Cara Memilih Kayu Jati Yang Berkualitas

1. Jangan memilih kayu jati yang berlubang

kayu jati berlubang karena sudah di buat atau di pakai untuk dapat membangun rumah oleh hama kayu (rayap) yang bisa dapat menyebabkan terjadinya bubuk kayu, Warga jepara telah menyebutnya “Trocoh”. Furniture yang terkena cocoh biasanya ada lubang-lubang kecil yang telah membuat kayu di furniture akan menjadi rapuh dan tidak tahan lama. Karna itu jika membeli furniture sebisa mungkin cari yang tidak bercocoh atau lubang-lubang kecil pada kayu.
2. Pilihlah kayu jati yang umurnya sudah tua atau lama

Pilihlah kayu jati yang umurnya sudah tua atau lama ciri-cirinya yaitu serat kayu yang padat, berat kayu yang berbobot, warnanya coklat kemerah-merahan dan merata keseluruhan kayu.
3. Memilih finishing yang bagus dan berkualitas

Cara Memilih finishing yang bagus dan berkualitas anda tinggal melihat warna yang merata di semua bagian-bagian produk furniture, mulai dari pori-pori kayu tertutup dan finishing tebal. Carilah bahan finishing yang sangat terbaik dan berkelas, untuk dapat mengetahuinya anda tinggal merabanya, finishing yang bagus produk furniture sangat halus ketika di pegang ataupun di raba.
4. Pilihlah kontruksi mebel yang kuat

Bila anda mau membeli Furniture, cobalah untuk dapat memakainya dulu, karena dengan memakai kita bisa tau kontruksinya bagus atau bukan. Kontruksi yang bila kita memakainya akan terasa nyaman, kuat atau kokoh ketika kita gunakan. Produk furniture juga harus Simetris.
5. Carilah furniture asli jepara

Karena sejak dulu Jepara sudah terkenal dengan mebelnya atau furniture. Furniture Jepara juga sudah go internasional, karna juga sudah di percaya dengan kualitas furniture yang baik. Buktinya sampai sekarang banyaknya customer dari negara tetangga yang telah mempercayai kebutuhan furniture untuk di produksi oleh tangan-tangan orang jepara, itulah keunggulan Jepara dari cara membuat produk furniture yang di buatnya.

Keahlihan masyarakat di Jepara juga sudah turun-temurun untuk dapat membuat mebel, karna itu jangan kaget jika anda menemukan hampir semua masyarakat jepara memproduksi mebel atau furniture.
Mungkin dengan itu anda bisa memilih mana kayu yang berkualitas, jika anda ragu anda bisa membeli furniture di mebel jepara murah kami.


Editor ; Dian Sukmawati

1. Manusia yang tidak bisa gemuk    Perry (59) pria ini dapat memakan makanan apapun yang diinginkannya dala

1. Manusia yang tidak bisa gemuk
 
 Perry (59) pria ini dapat memakan makanan apapun yang diinginkannya dalam jumlah tak terbatas termasuk makanan tinggi lemak seperti makanan fast food dan dia tidak perlu khawatir kegemukan. Pria ini menderita kelainan yang disebut Lipodystrophy, kondisi yang membuat tubuhnya secara cepat membakar lemak. Dahulu Perry adalah anak yang cukup gendut, tetapi ketika berumur 12 tahun tiba-tiba berat tubuhnya turun bebas hanya dalam waktu semalam. Meski berusaha makan sebanyak apapun tetapi tidak menimbulkan efek apa-apa. Pada akhirnya ketika diperiksa ditemukan kelainan, Perry ternyata memproduksi hormon insulin 6X lebih banyak dibandingkan orang kebanyakan.
 
2. Manusia Es 
 
Dutchman Wim Hof, dikenal juga dengan sebutan Iceman, pria ini mampu berenang di air es dan mengubur dirinya ditimbunan es. Bahkan dia pernah memanjat gunung Blanc hanya dengan celana pendek saja! Para ilmuan tidak dapat menjelaskan kondisi fisik ini, bagaimana bisa pria berumur 48 tahun ini tahan bahkan betah didalam suhu dingin yang seharusnya fatal bagi orang kebanyakan
 
  3. Manusia orgasme terbanyak di dunia
 
 
Sarah Carmen (24), UK. Merupakan wanita yang luar biasa karena dapat dengan mudah mendapat rangsangan dari hampir semua hal sehingga mampu orgasme sebanyak 200x dalam sehari. Bayangkan! Kondisi ini disebut Sexual Arousal Syndrome (PSAS) yang menyebabkan meningkatnya aliran darah ke organ kelamin. Sarah mengatakan sesekali dia melakukan banyak hubungan sex untuk sekedar menenangkan dirinya dan bagi pihak pria tampaknya tidak perlu bersusah payah karena Sarah dapat mencapai klimaks dengan mudahnya.  
 
4. Manusia yang alergi air
 
Ashleigh Morris, dia tidak bisa pergi berenang, berendam di bak air hangat dan bahkan mandi sekalipun karena dia alergi terhadap air, Bahkan berkeringat pun membuat gadis berumur 19 tahun ini kesakitan. Ashleigh berasal dari Malbourne, Australia, alergi terhadap air bertemperatur berapapun, kondisi ini terjadi sejak dia berumur 14 tahun. Dia menderita kelainan kulit yang disebut Aquagenic Urticaria, suatu kondisi yang benar-benar langka terjadi didunia.
 
5.Manusia yang alergi teknologi
 
Untuk sebagian besar orang, Handphone, memasak dengan Microwave adalah bagian dari kehidupan di abad 21. tetapi benda ini sangat tidak mungkin dimiliki bagi Debbie Bird, karena dia alergi terhadap Handphone dan Microwaves. Wanita berumur 39 tahun ini sangat sensitif gelombang elektromagnetik (EMF) yang dihasilkan oleh komputer, handphone, microwave dan beberapa mobil. Efek bila terkena kulit Debbie adalah luka ruam memerah dan bisa melebar 3X jika berada terlalu dekat dengan sumber EMF. Maka Suami Debbie yang bekerja sebagai manager health spa merubah rumah mereka menjadi bebas EMF.  
 
6. Manusia yang pingsan setelah tertawa
 
 
 Kay Underwood, berumur 20 tahun, menderita Cataplexy yang berarti ketika si penderita mengalami emosi berlebihan, ototnya akan melemah. hal seperti gembira, ketakutan, terkejut, kagum dapat membuatnya langsung jatuh tepat dimana dia berada. Kay menderita penyakit ini sejak 5 tahun yang lalu, pingsan lebih dari 40X dalam sehari. Kay mengatakan “orang menganggap hal ini sangat aneh dan tidaklah mudah menghadapi reaksi orang lain”. Selain Cataplexy, Kay juga harus melawan Narcolepsy, yaitu kondisi yang dapat membuatnya tertidur secara tiba-tiba. Narcolepsy menyerang lebih dari 30.000 orang di UK dan sekitar 70% nya juga memiliki penyakit Cataplexy
 
7. Manusia yang tidak tidur selama setahun
 
hett Lamb terlihat seperti anak berumur 3 tahun kebanyakan, tetapi ada satu hal yang membuatnya benar-benar berbeda dengan anak sebayanya, yaitu kondisi dimana dia mampu tidak tidur meski hanya sekejap saja. Rhett terjaga hampir 24 jam penuh selama setahun! membuat orang tua dan dokternya berjaga bergantian untuk mengamati Rhett agar menemukan solusinya. Akhirnya dokter mendiagnosa Rhett mengalami kondisi yang disebut Chiari Malformation. Otak Rhett secara harafiah terdesak oleh kolom tulang belakang, Sehingga mengacaukan sistem kerja otak, padahal otak mempunyai fungsi vital untuk mengantur rasa ngantuk, berbicara, emosi, sistem sirkulasi tubuh, bahkan mengatur pernafasan 

Dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada 6.200 pria dan wanita berusia 44 - 48 tahun, mereka menemukan bahwa kebia

Rokok lebih mematikan dibanding obesitas

Dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada 6.200 pria dan wanita berusia 44 - 48 tahun, mereka menemukan bahwa kebiasaan merokok adalah salah satu faktor penting yang bisa mempengaruhi kesehatan jantung dan risiko kematian.

Roger Blumental, seorang peneliti senior menjelaskan bahwa menghindari kebiasaan merokok bisa membuat risiko kematian seseorang turun 7,6 persen. Angka ini bahkan lebih rendah jika dibandingkan dengan orang yang mengalami obesitas. Sebaliknya, kebiasaan merokok juga bisa meningkatkan risiko kematian melebihi orang yang mengalami obesitas.

Dalam penelitian selama 7,6 tahun ini, peneliti menemukan empat kebiasaan dalam gaya hidup sehat yang sebaiknya dilakukan oleh orang untuk menghindari penyakit jantung dan menurunkan risiko kematian, seperti dilansir oleh Third Age (05/06).

Empat kebiasaan baik tersebut antara lain berolahraga, menjaga berat badan, melakukan diet sehat, serta menghindari kebiasaan merokok. KEempat gaya hidup sehat ini bisa melindungi seseorang dari penyakit jantung koroner, serta mengurangi risiko kematian.

"Dalam pengetahuan kami, ini adalah penelitian pertama yang menemukan kaitan antara gaya hidup dengan penurunan risiko penyakit jantung dan kematian," ungkap Haitham Ahmed, ketua peneliti.

Orang yang melakukan empat gaya hidup sehat tersebut diketahui bisa menurunkan risiko kematian hingga 80 persen dibandingkan dengan orang yang tak melakukan empat kebiasaan tersebut.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini sedang merumuskan tes kemampuan bagi 6.800 Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan eselon III dan eselon IV di lingkungan Pemprov DKI Jakarta. Perumusan tersebut tengah digodok Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Sekretaris Daerah dan Asisten Gubernur Bidang Kepegawaian.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini sedang merumuskan tes kemampuan bagi 6.800 Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan eselon III dan eselon IV di lingkungan Pemprov DKI Jakarta. Perumusan tersebut tengah digodok Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Sekretaris Daerah dan Asisten Gubernur Bidang Kepegawaian.

"Seleksi itu sudah ada instruksi lisan dari pak gubernur. Kemudian akan saya terjemahkan dan implementasikan seperti apa, tapi kami kumpulkan pejabat yang terkait dulu," ujar Kepala BKD I Made Karmayoga di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (14/3).

Made juga menegaskan BKD juga akan menggandeng pihak luar yang kompeten serta telah melibatkan konsultan dalam proses seleksi tersebut. Namun, lanjut Made, saat ini BKD masih fokus dalam penyelesaian lelang kepala sekolah.

"Kita juga akan cari narasumber bagaimana menerjemahkan atau menindaklanjuti dari instruksi lisan itu. Harus ada saran juga dari para ahli. Tapi harus menyelesaikan lelang kepala sekolah dan lelang kepala Puskesmas dulu. Kan itu belum dilantik," kata dia.

Made juga menambahkan saat ini BKD belum menentukan waktu pelaksanaan seleksi tersebut. Namun, gubernur dan wakil gubernur telah meminta pelaksanaan tersebut dilakukan bulan depan.

"Waktu pelaksanaannya belum diputuskan. Kalau pimpinan sih pengennya cepat kalau bisa April sudah mulai. Tapi kami juga harus perhitungkan kesiapan segala macamnya. Akan diupayakan April sudah mulai. Tapi jangan sampai mengganggu kinerja PNS yang melakukan tes," ujarnya.

Menurut Data BKD, pejabat eselon III di DKI Jakarta berjumlah 862 orang, yang terdiri dari 615 orang golongan III A dan 247 orang golongan III B. Kemudian untuk pejabat eselon IV berjumlah 5.942 orang, terdiri dari 3.758 orang golongan IV A dan 2.184 orang golongan IV B.
"Seleksi itu sudah ada instruksi lisan dari pak gubernur. Kemudian akan saya terjemahkan dan implementasikan seperti apa, tapi kami kumpulkan pejabat yang terkait dulu," ujar Kepala BKD I Made Karmayoga di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (14/3).

Made juga menegaskan BKD juga akan menggandeng pihak luar yang kompeten serta telah melibatkan konsultan dalam proses seleksi tersebut. Namun, lanjut Made, saat ini BKD masih fokus dalam penyelesaian lelang kepala sekolah.

"Kita juga akan cari narasumber bagaimana menerjemahkan atau menindaklanjuti dari instruksi lisan itu. Harus ada saran juga dari para ahli. Tapi harus menyelesaikan lelang kepala sekolah dan lelang kepala Puskesmas dulu. Kan itu belum dilantik," kata dia.

Made juga menambahkan saat ini BKD belum menentukan waktu pelaksanaan seleksi tersebut. Namun, gubernur dan wakil gubernur telah meminta pelaksanaan tersebut dilakukan bulan depan.

"Waktu pelaksanaannya belum diputuskan. Kalau pimpinan sih pengennya cepat kalau bisa April sudah mulai. Tapi kami juga harus perhitungkan kesiapan segala macamnya. Akan diupayakan April sudah mulai. Tapi jangan sampai mengganggu kinerja PNS yang melakukan tes," ujarnya.

Menurut Data BKD, pejabat eselon III di DKI Jakarta berjumlah 862 orang, yang terdiri dari 615 orang golongan III A dan 247 orang golongan III B. Kemudian untuk pejabat eselon IV berjumlah 5.942 orang, terdiri dari 3.758 orang golongan IV A dan 2.184 orang golongan IV B.

Mr. Napoleon was a self-taught musician whose career began in earnest with the orchestra led by Chico Marx of the Marx Brothers.

GREENWICH, Conn. — Mago is in the bedroom. You can go in.

The big man lies on a hospital bed with his bare feet scraping its bottom rail. His head is propped on a scarlet pillow, the left temple dented, the right side paralyzed. His dark hair is kept just long enough to conceal the scars.

The occasional sounds he makes are understood only by his wife, but he still has that punctuating left hand. In slow motion, the fingers curl and close. A thumbs-up greeting.

Hello, Mago.

This is Magomed Abdusalamov, 34, also known as the Russian Tyson, also known as Mago. He is a former heavyweight boxer who scored four knockouts and 14 technical knockouts in his first 18 professional fights. He preferred to stand between rounds. Sitting conveyed weakness.

But Mago lost his 19th fight, his big chance, at the packed Theater at Madison Square Garden in November 2013. His 19th decision, and his last.

Now here he is, in a small bedroom in a working-class neighborhood in Greenwich, in a modest house his family rents cheap from a devoted friend. The air-pressure machine for his mattress hums like an expectant crowd.

 

Photo
 
Mike Perez, left, and Magomed Abdusalamov during the fight in which Abdusalamov was injured. Credit Joe Camporeale/USA Today Sports, via Reuters

 

Today is like any other day, except for those days when he is hurried in crisis to the hospital. Every three hours during the night, his slight wife, Bakanay, 28, has risen to turn his 6-foot-3 body — 210 pounds of dead weight. It has to be done. Infections of the gaping bedsore above his tailbone have nearly killed him.

Then, with the help of a young caretaker, Baka has gotten two of their daughters off to elementary school and settled down the toddler. Yes, Mago and Baka are blessed with all girls, but they had also hoped for a son someday.

They feed Mago as they clean him; it’s easier that way. For breakfast, which comes with a side of crushed antiseizure pills, he likes oatmeal with a squirt of Hershey’s chocolate syrup. But even oatmeal must be puréed and fed to him by spoon.

He opens his mouth to indicate more, the way a baby does. But his paralysis has made everything a choking hazard. His water needs a stirring of powdered food thickener, and still he chokes — eh-eh-eh — as he tries to cough up what will not go down.

Advertisement

Mago used to drink only water. No alcohol. Not even soda. A sip of juice would be as far as he dared. Now even water betrays him.

With the caretaker’s help, Baka uses a washcloth and soap to clean his body and shampoo his hair. How handsome still, she has thought. Sometimes, in the night, she leaves the bedroom to watch old videos, just to hear again his voice in the fullness of life. She cries, wipes her eyes and returns, feigning happiness. Mago must never see her sad.

 

Photo
 
 Abdusalamov's hand being massaged. Credit Ángel Franco/The New York Times

 

When Baka finishes, Mago is cleanshaven and fresh down to his trimmed and filed toenails. “I want him to look good,” she says.

Theirs was an arranged Muslim marriage in Makhachkala, in the Russian republic of Dagestan. He was 23, she was 18 and their future hinged on boxing. Sometimes they would shadowbox in love, her David to his Goliath. You are so strong, he would tell her.

His father once told him he could either be a bandit or an athlete, but if he chose banditry, “I will kill you.” This paternal advice, Mago later told The Ventura County Reporter, “made it a very easy decision for me.”

Mago won against mediocre competition, in Moscow and Hollywood, Fla., in Las Vegas and Johnstown, Pa. He was knocked down only once, and even then, it surprised more than hurt. He scored a technical knockout in the next round.

It all led up to this: the undercard at the Garden, Mike Perez vs. Magomed Abdusalamov, 10 rounds, on HBO. A win, he believed, would improve his chances of taking on the heavyweight champion Wladimir Klitschko, who sat in the crowd of 4,600 with his fiancée, the actress Hayden Panettiere, watching.

Wearing black-and-red trunks and a green mouth guard, Mago went to work. But in the first round, a hard forearm to his left cheek rocked him. At the bell, he returned to his corner, and this time, he sat down. “I think it’s broken,” he repeatedly said in Russian.

 

Photo
 
Bakanay Abdusalamova, Abdusalamov's wife, and her injured husband and a masseur in the background. Credit Ángel Franco/The New York Times

 

Maybe at that point, somebody — the referee, the ringside doctors, his handlers — should have stopped the fight, under a guiding principle: better one punch too early than one punch too late. But the bloody trade of blows continued into the seventh, eighth, ninth, a hand and orbital bone broken, his face transforming.

Meanwhile, in the family’s apartment in Miami, Baka forced herself to watch the broadcast. She could see it in his swollen eyes. Something was off.

After the final round, Perez raised his tattooed arms in victory, and Mago wandered off in a fog. He had taken 312 punches in about 40 minutes, for a purse of $40,000.

 

 

In the locker room, doctors sutured a cut above Mago’s left eye and tested his cognitive abilities. He did not do well. The ambulance that waits in expectation at every fight was not summoned by boxing officials.

Blood was pooling in Mago’s cranial cavity as he left the Garden. He vomited on the pavement while his handlers flagged a taxi to St. Luke’s-Roosevelt Hospital. There, doctors induced a coma and removed part of his skull to drain fluids and ease the swelling.

Then came the stroke.

 

Photo
 
A championship belt belonging to Abdusalamov and a card from one of his daughters. Credit Ángel Franco/The New York Times

 

It is lunchtime now, and the aroma of puréed beef and potatoes lingers. So do the questions.

How will Mago and Baka pay the $2 million in medical bills they owe? What if their friend can no longer offer them this home? Will they win their lawsuits against the five ringside doctors, the referee, and a New York State boxing inspector? What about Mago’s future care?

Most of all: Is this it?

A napkin rests on Mago’s chest. As another spoonful of mush approaches, he opens his mouth, half-swallows, chokes, and coughs until it clears. Eh-eh-eh. Sometimes he turns bluish, but Baka never shows fear. Always happy for Mago.

Some days he is wheeled out for physical therapy or speech therapy. Today, two massage therapists come to knead his half-limp body like a pair of skilled corner men.

Soon, Mago will doze. Then his three daughters, ages 2, 6 and 9, will descend upon him to talk of their day. Not long ago, the oldest lugged his championship belt to school for a proud show-and-tell moment. Her classmates were amazed at the weight of it.

Then, tonight, there will be more puréed food and pulverized medication, more coughing, and more tender care from his wife, before sleep comes.

Goodbye, Mago.

He half-smiles, raises his one good hand, and forms a fist.

Late in April, after Native American actors walked off in disgust from the set of Adam Sandler’s latest film, a western sendup that its distributor, Netflix, has defended as being equally offensive to all, a glow of pride spread through several Native American communities.

Tantoo Cardinal, a Canadian indigenous actress who played Black Shawl in “Dances With Wolves,” recalled thinking to herself, “It’s come.” Larry Sellers, who starred as Cloud Dancing in the 1990s television show “Dr. Quinn, Medicine Woman,” thought, “It’s about time.” Jesse Wente, who is Ojibwe and directs film programming at the TIFF Bell Lightbox in Toronto, found himself encouraged and surprised. There are so few film roles for indigenous actors, he said, that walking off the set of a major production showed real mettle.

But what didn’t surprise Mr. Wente was the content of the script. According to the actors who walked off the set, the film, titled “The Ridiculous Six,” included a Native American woman who passes out and is revived after white men douse her with alcohol, and another woman squatting to urinate while lighting a peace pipe. “There’s enough history at this point to have set some expectations around these sort of Hollywood depictions,” Mr. Wente said.

The walkout prompted a rhetorical “What do you expect from an Adam Sandler film?,” and a Netflix spokesman said that in the movie, blacks, Mexicans and whites were lampooned as well. But Native American actors and critics said a broader issue was at stake. While mainstream portrayals of native peoples have, Mr. Wente said, become “incrementally better” over the decades, he and others say, they remain far from accurate and reflect a lack of opportunities for Native American performers. What’s more, as Native Americans hunger for representation on screen, critics say the absence of three-dimensional portrayals has very real off-screen consequences.

“Our people are still healing from historical trauma,” said Loren Anthony, one of the actors who walked out. “Our youth are still trying to figure out who they are, where they fit in this society. Kids are killing themselves. They’re not proud of who they are.” They also don’t, he added, see themselves on prime time television or the big screen. Netflix noted while about five people walked off the “The Ridiculous Six” set, 100 or so Native American actors and extras stayed.

Advertisement

But in interviews, nearly a dozen Native American actors and film industry experts said that Mr. Sandler’s humor perpetuated decades-old negative stereotypes. Mr. Anthony said such depictions helped feed the despondency many Native Americans feel, with deadly results: Native Americans have the highest suicide rate out of all the country’s ethnicities.

The on-screen problem is twofold, Mr. Anthony and others said: There’s a paucity of roles for Native Americans — according to the Screen Actors Guild in 2008 they accounted for 0.3 percent of all on-screen parts (those figures have yet to be updated), compared to about 2 percent of the general population — and Native American actors are often perceived in a narrow way.

In his Peabody Award-winning documentary “Reel Injun,” the Cree filmmaker Neil Diamond explored Hollywood depictions of Native Americans over the years, and found they fell into a few stereotypical categories: the Noble Savage, the Drunk Indian, the Mystic, the Indian Princess, the backward tribal people futilely fighting John Wayne and manifest destiny. While the 1990 film “Dances With Wolves” won praise for depicting Native Americans as fully fleshed out human beings, not all indigenous people embraced it. It was still told, critics said, from the colonialists’ point of view. In an interview, John Trudell, a Santee Sioux writer, actor (“Thunderheart”) and the former chairman of the American Indian Movement, described the film as “a story of two white people.”

“God bless ‘Dances with Wolves,’ ” Michael Horse, who played Deputy Hawk in “Twin Peaks,” said sarcastically. “Even ‘Avatar.’ Someone’s got to come save the tribal people.”

Dan Spilo, a partner at Industry Entertainment who represents Adam Beach, one of today’s most prominent Native American actors, said while typecasting dogs many minorities, it is especially intractable when it comes to Native Americans. Casting directors, he said, rarely cast them as police officers, doctors or lawyers. “There’s the belief that the Native American character should be on reservations or riding a horse,” he said.

“We don’t see ourselves,” Mr. Horse said. “We’re still an antiquated culture to them, and to the rest of the world.”

Ms. Cardinal said she was once turned down for the role of the wife of a child-abusing cop because the filmmakers felt that casting her would somehow be “too political.”

Another sore point is the long run of white actors playing American Indians, among them Burt Lancaster, Rock Hudson, Audrey Hepburn and, more recently, Johnny Depp, whose depiction of Tonto in the 2013 film “Lone Ranger,” was viewed as racist by detractors. There are, of course, exceptions. The former A&E series “Longmire,” which, as it happens, will now be on Netflix, was roundly praised for its depiction of life on a Northern Cheyenne reservation, with Lou Diamond Phillips, who is of Cherokee descent, playing a Northern Cheyenne man.

Others also point to the success of Mr. Beach, who played a Mohawk detective in “Law & Order: Special Victims Unit” and landed a starring role in the forthcoming D C Comics picture “Suicide Squad.” Mr. Beach said he had come across insulting scripts backed by people who don’t see anything wrong with them.

“I’d rather starve than do something that is offensive to my ancestral roots,” Mr. Beach said. “But I think there will always be attempts to drawn on the weakness of native people’s struggles. The savage Indian will always be the savage Indian. The white man will always be smarter and more cunning. The cavalry will always win.”

The solution, Mr. Wente, Mr. Trudell and others said, lies in getting more stories written by and starring Native Americans. But Mr. Wente noted that while independent indigenous film has blossomed in the last two decades, mainstream depictions have yet to catch up. “You have to stop expecting for Hollywood to correct it, because there seems to be no ability or desire to correct it,” Mr. Wente said.

There have been calls to boycott Netflix but, writing for Indian Country Today Media Network, which first broke news of the walk off, the filmmaker Brian Young noted that the distributor also offered a number of films by or about Native Americans.

The furor around “The Ridiculous Six” may drive more people to see it. Then one of the questions that Mr. Trudell, echoing others, had about the film will be answered: “Who the hell laughs at this stuff?”

Children playing last week in Sandtown-Winchester, the Baltimore neighborhood where Freddie Gray was raised. One young resident called it “a tough community.”
Todd Heisler/The New York Times

Children playing last week in Sandtown-Winchester, the Baltimore neighborhood where Freddie Gray was raised. One young resident called it “a tough community.”

Hard but Hopeful Home to ‘Lot of Freddies’

Public perceptions of race relations in America have grown substantially more negative in the aftermath of the death of a young black man who was injured while in police custody in Baltimore and the subsequent unrest, far eclipsing the sentiment recorded in the wake of turmoil in Ferguson, Mo., last summer.

Americans are also increasingly likely to say that the police are more apt to use deadly force against a black person, the latest New York Times/CBS News poll finds.

The poll findings highlight the challenges for local leaders and police officials in trying to maintain order while sustaining faith in the criminal justice system in a racially polarized nation.

Sixty-one percent of Americans now say race relations in this country are generally bad. That figure is up sharply from 44 percent after the fatal police shooting of Michael Brown and the unrest that followed in Ferguson in August, and 43 percent in December. In a CBS News poll just two months ago, 38 percent said race relations were generally bad. Current views are by far the worst of Barack Obama’s presidency.

The negative sentiment is echoed by broad majorities of blacks and whites alike, a stark change from earlier this year, when 58 percent of blacks thought race relations were bad, but just 35 percent of whites agreed. In August, 48 percent of blacks and 41 percent of whites said they felt that way.

Looking ahead, 44 percent of Americans think race relations are worsening, up from 36 percent in December. Forty-one percent of blacks and 46 percent of whites think so. Pessimism among whites has increased 10 points since December.

Continue reading the main story
Do you think race relations in the United States are generally good or generally bad?
60
40
20
0
White
Black
May '14
May '15
Generally bad
Continue reading the main story
Do you think race relations in the United States are getting better, getting worse or staying about the same?
Getting worse
Staying the same
Getting better
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
44%
37
17
46
36
16
41
42
15

The poll finds that profound racial divisions in views of how the police use deadly force remain. Blacks are more than twice as likely to say police in most communities are more apt to use deadly force against a black person — 79 percent of blacks say so compared with 37 percent of whites. A slim majority of whites say race is not a factor in a police officer’s decision to use deadly force.

Overall, 44 percent of Americans say deadly force is more likely to be used against a black person, up from 37 percent in August and 40 percent in December.

Blacks also remain far more likely than whites to say they feel mostly anxious about the police in their community. Forty-two percent say so, while 51 percent feel mostly safe. Among whites, 8 in 10 feel mostly safe.

One proposal to address the matter — having on-duty police officers wear body cameras — receives overwhelming support. More than 9 in 10 whites and blacks alike favor it.

Continue reading the main story
How would you describe your feelings about the police in your community? Would you say they make you feel mostly safe or mostly anxious?
Mostly safe
Mostly anxious
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
75%
21
3
81
16
3
51
42
7
Continue reading the main story
In general, do you think the police in most communities are more likely to use deadly force against a black person, or more likely to use it against a white person, or don’t you think race affects police use of deadly force?
Police more likely to use deadly force against a black person
Police more likely to use deadly force against a white person
Race DOES NOT affect police use of deadly force
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
44%
37%
79%
2%
2%
1%
46%
53%
16%
9%
8%
4%
Continue reading the main story
Do you favor or oppose on-duty police officers wearing video cameras that would record events and actions as they occur?
Favor
Oppose
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
92%
93%
93%
6%
5%
5%
2%
2%
2%

Asked specifically about the situation in Baltimore, most Americans expressed at least some confidence that the investigation by local authorities would be conducted fairly. But while nearly two-thirds of whites think so, fewer than half of blacks agree. Still, more blacks are confident now than were in August regarding the investigation in Ferguson. On Friday, six members of the police force involved in the arrest of Mr. Gray were charged with serious offenses, including manslaughter. The poll was conducted Thursday through Sunday; results from before charges were announced are similar to those from after.

Reaction to the recent turmoil in Baltimore, however, is similar among blacks and whites. Most Americans, 61 percent, say the unrest after Mr. Gray’s death was not justified. That includes 64 percent of whites and 57 percent of blacks.

Continue reading the main story
As you may know, a Baltimore man, Freddie Gray, recently died after being in the custody of the Baltimore police. How much confidence do you have that the investigation by local authorities into this matter will be conducted fairly?
A lot
Some
Not much
None at all
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
29%
31
22
14
5
31
33
20
11
5
20
26
30
22
In general, do you think the unrest in Baltimore after the death of Freddie Gray was justified, or do you think the unrest was not justified?
Justified
Not justified
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
28%
61
11
26
64
11
37
57
6

Mr. Pfaff was an international affairs columnist and author who found Washington’s intervention in world affairs often misguided.

The 6-foot-10 Phillips played alongside the 6-11 Rick Robey on the Wildcats team that won the 1978 N.C.A.A. men’s basketball title.