Agen Tiket Pesawat di Kutai

Agen Tiket Pesawat di Kutai Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Kutai

Agen Tiket Pesawat di Malang

Agen Tiket Pesawat di Malang Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Malang

Agen Tiket Pesawat di Yogyakarta

Agen Tiket Pesawat di Yogyakarta Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Yogyakarta

Agen Tiket Pesawat di Bandung

Agen Tiket Pesawat di Bandung Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Bandung

Agen Tiket Pesawat di Pontianak

Agen Tiket Pesawat di Pontianak Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Pontianak

Agen Tiket Pesawat di Samarinda

Agen Tiket Pesawat di Samarinda Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Samarinda

Agen Tiket Pesawat di Palembang

Agen Tiket Pesawat di Palembang Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Palembang

saco-indonesia.com, Baru ditinggal masuk ke dalam rumah untuk menaruh makanan, seorang mahasiswi telah kehilangan motor yang bar

saco-indonesia.com, Baru ditinggal masuk ke dalam rumah untuk menaruh makanan, seorang mahasiswi telah kehilangan motor yang baru terparkir di pelataran teras rumah di Jalan Adikarya, RT 3/15, No.11, Pancoran Mas Kota Depok, Rabu (29/1) kemarin malam.

Peristiwa tersebut telah terjadi pukul 20:30 malam , tepatnya saat Puput yang berusia 20 tahun , Mahasiswi BSI Margonda semester 3 jurusan Komputerisasi Akutansi, telah mengetahui bahwa motor Honda Revo hitam lis biru, B 6973 ZCN, yang telah terpakir dalam teras rumah sudah hilang.

“Saya berdua sama teman kuliah Gani Lienardo yang berusia 23 tahun , baru menaruh makanan yang baru dibeli dari minimarket ke dalam rumah. Tidak ada dua menit motor yang terkunci sudah hilang dibawa pelaku,”ujar Puput kepada Pos Kota yang telah didampingi oleh teman prianya tersebut kepada Pos Kota saat membuat laporan di SPKT Polsek Pancoran Mas, Kamis (29/1) sekitar pukul 21:00.

Saat kejadian tersebut korban juga sempat meneriaki pelaku yang mengambil motornya. Pelaku yang berjumlah dua orang, seorang pelaku telah membawa motor korban dan seorang lagi dengan menggunakan motor suzuki Satria F150 kabur ke arah jalan jembatan Siliwangi.

“Pelaku juga sempat ditendang sama tukang ojek namun hanya oleng. Setelah itu langsung berhasil kabur dan tidak diketahui lagi jejaknya,”ungkap wanita berhijab ini.

Ciri-ciri pelaku yang telah diketahui korban adalah berbadan kurus. “Kejadiannya begitu sangat cepat sehingga tidak begitu memperhatikan ciri-ciri pelaku karena gelap. Yang telah diketahui hanya berbadan kurus saja,”demikian.

Sementara itu Kapolsek Pancoran Mas, Kompol Purwadi juga mengatakan anggotanya telah memintai keterangan korban dan melakukan olah TKP.

“Masih kita dalami, sejumlah keterangan saksi sudah kita mintai keterangan,”ungkapnya.


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Cara Membuat Balon Udara Sederhana Cara untuk membuatnya pertama yang harus kita lakukan adalah dengan m

saco-indonesia.com,
Cara Membuat Balon Udara Sederhana

Cara untuk membuatnya pertama yang harus kita lakukan adalah dengan memotong tas kresek menjadi lembaran-lembaran yang nantinya akan disatukan. Potong lembaran kresek untuk menjadi bentuk segi empat.
Satukan tiap-tiap lembar kresek dengan menggunakan lilin. Caranya seperti kalau orang yang membungkus krupuk dengan plastik, 2 sisi plastik harus direkatkan dengan cara dibakar pakai lilin. Hati-hati karena tahap ini yang paling telah menyita waktu dan butuh teliti, salah sedikit kresek bisa bolong karena terbakar. Pelan-pelan aja yang penting jadi. Agar lebih mudah, bisa gunakan lidi. Ukurannya dikira-kira dengan ukuran plastik yang dipakai, yang diharapkan hasil akhirnya akan membentuk seperti tabung dengan diameter lebih dari 30cm, umumnya diameter 50cm sudah bagus dengan ketinggian 1m lebih.
Setelah jadi, tahap berikutnya adalah dengan membuat tutup untuk bagian atasnya. Buat dari beberapa lembar kresek yang akan disatukan, kemudian diukur berapa yang dibutuhkan untuk dapat membuat tutup atas. Satukan dengan lilin seperti sebelumnya.
Badan balon sudah jadi, tinggal membuat bagian bawah yang nantinya akan dipakai untuk dapat mengaitkan gombal. Bahannya juga bisa dari bambu atau kawat, yang penting adalah ringan. Bentuk seperti lingkaran dengan diameter kurang dari diameter tabung yang dibuat tadi. Semisal tabung dari kresek dibuat 50cm, maka lingkaran bawah harus dibuat menjadi 30cm. Kemudian, tengahnya harus diberi kawat yang membentuk tanda plus.

Selesai, kemudian satukan kresek dengan lingkaran masih dengan menggunakan cara biasa yaitu dengan bantuan dibakar lilin. Mungkin bingung kenapa jika diameter tabung 50cm kok lingkarannya 30cm. Sebenarnya sebelum disatukan, tabung dari kresek tadi dipotong dulu agar diameter bawah sesuai dengan diameter lingkaran bambu. Tujuannya agar balon bisa terlihat lebih gembung.

Bagian yang ada garis putus-putus adalah yang perlu dipotong, kemudian disambung lagi dengan dibakar lilin.
Nah, jadilah balon sedehana. Siapkan gombal yang dibentuk seperti bola, lalu diikat dengan kawat agar tidak berubah bentuk. Rendam dalam minyak goreng. Direkomendasikan, langkah ini juga dilakukan sehari sebelum membuat balon, karena semakin lama direndam, maka minyak yang dihisap gombal juga makin banyak. Artinya gombal bisa menyala lebih lama.

Berikutnya adalah saat yang ditunggu, menerbangkan balon. Siapkan dahan-dahan pohon atau daun kering untuk dibakar. Biasanya digunakan daun kelapa, jika tidak ada sesuaikan saja, yang penting bisa menghasilkan api yang besar. Daun dibakar mengeluarkan asap, usahakan asap masuk ke dalam balon.

Jika balon sudah mengembang dan dirasa sudah bisa terbang, kaitkan gombal ke tengah kawat dan nyalakan. Balon siap dilepaskan.


Editor : Dian Sukmawati

Eksterior body mobil juga merupakan wajah dari mobil tersebut. Dari situlah awalnya orang akan menilai sebuah mobil. Selain bent

Eksterior body mobil juga merupakan wajah dari mobil tersebut. Dari situlah awalnya orang akan menilai sebuah mobil. Selain bentuk dan model body plus aksesoriesnya, warna mobil juga merupakan komponen penting pada penampilan mobil.

Banyak hal yang dapat merusak penampilan warna mobil misalnya adanya luka pada panel mobil yang mengupas cat. Jika hal ini telah terjadi pemilik mobil pasti akan segera membawa mobilnya ke bengkel body repair untuk memperbaikinya. Terkadang tidak lagi mempertimbangkan biaya perbaikanya demi hasil yang maksimal.

Namun banyak pemilik mobil yang belum memahami teknologi pengecatan di bengkel. Umumnya masih menganggap bahwa pengecatan di bengkel sama dengan teknologi di pabrik baik bahan cat maupun metode pengerjaanya. Padahal dengan kondisi yang berbeda diperlukan teknologi aplikasi yang berbeda pula.

Teknologi OEM dan REFINISH

Teknologi pengecatan di pabrik dengan yang ada di bengkel jelas berbeda sehingga bahan dan material yang digunakan pun sangat berbeda. Pada proses pengecatan di pabrik dikondisikan untuk mass production sehingga bahan yang digunakan memang didesain khusus yang disebut dengan cat OEM ( Original Equipment Manufacture ). Bahan cat ini dioperasikan oleh robot pada suhu diatas 100 derajat Celcius. Hal ini juga dapat dilakukan karena body mobil dalam kondisi kosong tanpa interior.

Metode penyemprotanya dengan elektostatik dimana body telah diberi muatan listrik sehingga debu cat yang disemburkan oleh nozzle robot dapat diserap oleh plat body. Hasilnya cat akan menempel rata dengan ketebalan yang rata pula. Dengan pemanasan pada suhu tinggi maka proses pengeringan berlangsung lebih cepat dengan demikian proses assembling di depannya dapat langsung dilakukan.

Sedangkan pada proses pengecatan di bengkel pada prinsipnya adalah memperbaiki cat dari pabrik. Pada proses pengerjaan juga ada kendala dimana interior mobil sudah terisi dan rangkaian listrik sudah terpasang. Dengan demikian diperlukan teknologi yang berbeda dengan yang dilakukan di pabrik. Teknologi ini disebut Refinish.

Namun demikian pada bengkel-bengkel Authorized Dealer teknoloi refinish yang diterapkan biasanya sudah distandarisasi oleh pabikan pembuat mobil tersebut. Contohnya adalah Bengkel Body Repair & Paint Center PT. Nasmoco Purwokerto sebagai bengkel Authorized TOYOTA memiliki standar baku pengecatan mobil TOYOTA.

Proses Step by Step

Proses demi proses akan dilakukan sesuai dengan karakteristik mobil TOYOTA. Mulai dari perbaikan panel ( kenteng ) hingga proses pengecatan. Setelah proses kenteng selesai dilanjutkan pada proses persiapan permukaan. Proses ini adalah persiapan panel sebelum dilakuakn pengecatan yang meliputi proses primer, pendempulan, epoxy dan masking. Setelah proses tersebut dilakukan barulah masuk ke pengecatan ( top coat ).

Proses ini umumnya akan memakan waktu lebih dari 1 hari untuk bisa mendapatkan kualitas yang baik. Dan setiap tahapan poses harus melalui pengontrollan kualitas. Hal ini akan menjadi penting karena jika terjadi problem pada salah satu proses tersebut maka akan dapat mengakibatkan kerusakan di hasil akhirnya.

Dan hanya teknisi yang sudah terlatih yang dapat melakukannya. Itulah sebabnya penting untuk membawa mobil ke bengkel resminya. Karena teknisinya sudah dilatih untuk menangani mobil tersebut mulai dari hal yang paling sepele hingga yang paling sulit sekalipun.

 

saco-indonesia.com, Bergulirnya musim baru Indonesia Super League (ISL) rupanya juga ingin dibarengi PSSI dengan lebih tegas dal

saco-indonesia.com, Bergulirnya musim baru Indonesia Super League (ISL) rupanya juga ingin dibarengi PSSI dengan lebih tegas dalam menindak pelanggaran yang dilakukan pelaku sepakbola.

Menurut Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin, pihaknya kini juga akan lebih memperhatikan masalah tersebut karena telah menilai sepakbola Indonesia sudah menjadi sorotan dunia internasional.

"Kita sudah go international. Klub-klub besar dunia sudah mau hadir di negeri ini, kita juga sudah lelah mendapat hukuman. Segala insiden kotor bakal akan sangat merugikan. Bukan hanya keuangan saja , tapi juga nama bangsa Indonesia jadi terseret," ujar Djohar kepada para wartawan.

Lebih lanjut, Djohar juga menegaskan bahwa semua permasalahan yang telah dilaporkan nantinya akan menjadi tanggung jawab Komisi Disiplin PSSI untuk dapat menindaklanjutinya.

"Hukuman tentu juga akan diberikan jika melanggar peraturan. Laporan dari pengawas pertandingan akan segera disampaikan ke komisi disiplin. Badan peradilan kita adalah Komdis, tapi saya juga berharap sepakbola kita bisa bersih." imbuhnya.

Pada pekan perdana ISL musim ini telah tercatat beberapa kejadian kontroversial sudah terjadi, salah satunya adalah protes yang dilancarkan kubu Mitra Kukar terhadap kepemimpinan wasit di laga kontra Persebaya.


Editor : Dian Sukmawati

Probolinggo, Saco-Indonesia.com - Setelah pemeriksaan selama lima hari terungkap bahwa tersangka Buasir Nur Khotib alias Kolor Ijo (50) telah mencuri di 43 lokasi berbeda dan di 31 tempat di antaranya, dia memperkosa korban.

Probolinggo, Saco-Indonesia.com - Setelah pemeriksaan selama lima hari terungkap bahwa tersangka Buasir Nur Khotib alias Kolor Ijo (50) telah mencuri di 43 lokasi berbeda dan di 31 tempat di antaranya, dia memperkosa korban.

Dan sejak Rabu (5/2/2014) Buasir dibawa ke Polda Jawa Timur di Surabaya karena kuat dugaan tersangka juga melakukan kejahatan di dua wilayah hukum, Polresta Probolinggo dan Polres Probolinggo.

Kapolresta Probolinggo, AKBP Iwan Setyawan mengatakan, di Polres Kabupaten Probolinggo, mendapat 27 laporan dari para korban. "Aksi tersangka ini memang di dua daerah, Kota dan Kabupaten Probolinggo," kata Iwan, Rabu (5/2/2014) siang.

Pada awalnya, diketahui ada lima lokasi tindak kejahatan pencurian dan perkosaan yang dilakukan tersangka. Namun, setelah ditangkap, ayah tiga anak ini mengaku telah beraksi di 31 lokasi yang berbeda. Bahkan terakhir, tersangka mengaku sudah beraksi di 43 lokasi berbeda.

Kapolresta Iwan menduga, tersangka mengalami kelainan seks. Pihaknya yakin bila masih ada banyak korban, yang belum melapor. Kini, setelah dilakukan pelimpahan kasus, penyidikan terhadap Kolor Ijo akan dilanjutkan oleh Polda Jatim.

Buasir ditangkap Tim Buser Polresta Probolinggo di rumahnya, Desa Poh Sangit Lor, Kecamatan Wonomerto Kabupaten Probolinggo, pada 30 Januari 2014 setelah satu korbannya berhasil mengenali wajah pelaku dari sketsa yang dibuat polisi.

Selama ini, saat beraksi tersangka mengenakan celana pendek dengan ikat kolor berwarna hijau. Setelah masuk rumah korban, pelaku mengambil barang-barang berharga. Sebagian korban perempuan, diperkosa di ladang atau sawah.

Sumber :kompas.com

Editor : Maulana Lee

saco-indonesia.com, Prestasi buruk yang telah dialami oleh AC Milan di sepanjang musim ini rupanya tidak membuat Nigel De Jong m

saco-indonesia.com, Prestasi buruk yang telah dialami oleh AC Milan di sepanjang musim ini rupanya tidak membuat Nigel De Jong menjadi pesimis. Ia juga yakin sedikit demi sedikit klubnya itu akan mampu untuk memperbaiki posisi mereka di klasemen.

Terlebih kini Il Rossoneri juga sudah resmi mendatangkan bala bantuan anyar dalam sosok Keisuke Honda, playmaker asal Jepang yang dianggap akan berkolaborasi dengan baik bersama Kaka.

"Milan juga tidak benar-benar terpuruk, tak lama lagi juga akan datang bala bantuan untuk kami," tutur De Jong menurut laporan La Gazzetta Dello Sport.

"Honda adalah pemain yang ber-skill dan telah memiliki kemampuan kaki kiri yang hebat. Saya amat terkesan. Ia juga bisa mencetak gol dari semua posisi dan akan jadi pemain yang penting untuk kami. Saya senang ia datang ke sini," tutupnya.

Honda baru akan bisa bermain untuk Milan mulai Januari mendatang. Mengenakan nomor punggung 10, Honda diperkirakan akan melakoni debutnya di Serie A saat Milan melawan Sassuolo.


Editor : Dian Sukmawati

Wali Kota Jakarta Barat Anas Effendi akan menargetkan, penyelesaian pembangunan kampung deret Tambora selesai pada pertengahan Maret. Hal itu telah dinyatakan oleh Anas saat mengunjungi lokasi perkampungan padat penduduk.

Wali Kota Jakarta Barat Anas Effendi akan menargetkan, penyelesaian pembangunan kampung deret Tambora selesai pada pertengahan Maret. Hal itu telah dinyatakan oleh Anas saat mengunjungi lokasi perkampungan padat penduduk.

"Pertengahan Maret harus sudah selesai. Tanpa harus mengurangi kualitas dan di tata rumahnya dengan baik," kata Anas saat mengunjungi kampung deret di RW 04, Kelurahan Tambora, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Mantan wali kota Jakarta Selatan ini telah menjelaskan, dari 41 rumah kampung deret yang dilihatnya, baru 27 yang sudah selesai pembangunannya. Selain pembangunan rumah, pembangunan saluran juga belum sepenuhnya rampung.

Kepala Suku Dinas Perumahan Jakarta Barat, Rokhman Lizar juga mengatakan, rumah deret di Jakarta Barat berjumlah 359. Pembangunannya sudah mencapai 92 persen.

Rokhman juga menjelaskan, tahun 2013, rumah deret di Jakarta Barat ada di 4 RW. Dua RW di Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, satu RW di Kelurahan Kali Anyar, dan satu RW di Kelurahan Tambora, Kecamatan Tambora.

Di tahun 2014, sebanyak 1.350 warga sudah mendaftar program kampung deret. Pembangunan akan dimulai sekitar bulan Juni dengan fokus pembangunan di 13 RW di Tambora dan Kalideres.

"Anggarannya satu meter persegi Rp 1,5 juta. Maksimal 36 m2, satu rumah maksimal Rp 54 Juta," ujarnya.

Mr. Alger, who served five terms from Texas, led Republican women in a confrontation with Lyndon B. Johnson that may have cost Richard M. Nixon the 1960 presidential election.

GREENWICH, Conn. — Mago is in the bedroom. You can go in.

The big man lies on a hospital bed with his bare feet scraping its bottom rail. His head is propped on a scarlet pillow, the left temple dented, the right side paralyzed. His dark hair is kept just long enough to conceal the scars.

The occasional sounds he makes are understood only by his wife, but he still has that punctuating left hand. In slow motion, the fingers curl and close. A thumbs-up greeting.

Hello, Mago.

This is Magomed Abdusalamov, 34, also known as the Russian Tyson, also known as Mago. He is a former heavyweight boxer who scored four knockouts and 14 technical knockouts in his first 18 professional fights. He preferred to stand between rounds. Sitting conveyed weakness.

But Mago lost his 19th fight, his big chance, at the packed Theater at Madison Square Garden in November 2013. His 19th decision, and his last.

Now here he is, in a small bedroom in a working-class neighborhood in Greenwich, in a modest house his family rents cheap from a devoted friend. The air-pressure machine for his mattress hums like an expectant crowd.

 

Photo
 
Mike Perez, left, and Magomed Abdusalamov during the fight in which Abdusalamov was injured. Credit Joe Camporeale/USA Today Sports, via Reuters

 

Today is like any other day, except for those days when he is hurried in crisis to the hospital. Every three hours during the night, his slight wife, Bakanay, 28, has risen to turn his 6-foot-3 body — 210 pounds of dead weight. It has to be done. Infections of the gaping bedsore above his tailbone have nearly killed him.

Then, with the help of a young caretaker, Baka has gotten two of their daughters off to elementary school and settled down the toddler. Yes, Mago and Baka are blessed with all girls, but they had also hoped for a son someday.

They feed Mago as they clean him; it’s easier that way. For breakfast, which comes with a side of crushed antiseizure pills, he likes oatmeal with a squirt of Hershey’s chocolate syrup. But even oatmeal must be puréed and fed to him by spoon.

He opens his mouth to indicate more, the way a baby does. But his paralysis has made everything a choking hazard. His water needs a stirring of powdered food thickener, and still he chokes — eh-eh-eh — as he tries to cough up what will not go down.

Advertisement

Mago used to drink only water. No alcohol. Not even soda. A sip of juice would be as far as he dared. Now even water betrays him.

With the caretaker’s help, Baka uses a washcloth and soap to clean his body and shampoo his hair. How handsome still, she has thought. Sometimes, in the night, she leaves the bedroom to watch old videos, just to hear again his voice in the fullness of life. She cries, wipes her eyes and returns, feigning happiness. Mago must never see her sad.

 

Photo
 
 Abdusalamov's hand being massaged. Credit Ángel Franco/The New York Times

 

When Baka finishes, Mago is cleanshaven and fresh down to his trimmed and filed toenails. “I want him to look good,” she says.

Theirs was an arranged Muslim marriage in Makhachkala, in the Russian republic of Dagestan. He was 23, she was 18 and their future hinged on boxing. Sometimes they would shadowbox in love, her David to his Goliath. You are so strong, he would tell her.

His father once told him he could either be a bandit or an athlete, but if he chose banditry, “I will kill you.” This paternal advice, Mago later told The Ventura County Reporter, “made it a very easy decision for me.”

Mago won against mediocre competition, in Moscow and Hollywood, Fla., in Las Vegas and Johnstown, Pa. He was knocked down only once, and even then, it surprised more than hurt. He scored a technical knockout in the next round.

It all led up to this: the undercard at the Garden, Mike Perez vs. Magomed Abdusalamov, 10 rounds, on HBO. A win, he believed, would improve his chances of taking on the heavyweight champion Wladimir Klitschko, who sat in the crowd of 4,600 with his fiancée, the actress Hayden Panettiere, watching.

Wearing black-and-red trunks and a green mouth guard, Mago went to work. But in the first round, a hard forearm to his left cheek rocked him. At the bell, he returned to his corner, and this time, he sat down. “I think it’s broken,” he repeatedly said in Russian.

 

Photo
 
Bakanay Abdusalamova, Abdusalamov's wife, and her injured husband and a masseur in the background. Credit Ángel Franco/The New York Times

 

Maybe at that point, somebody — the referee, the ringside doctors, his handlers — should have stopped the fight, under a guiding principle: better one punch too early than one punch too late. But the bloody trade of blows continued into the seventh, eighth, ninth, a hand and orbital bone broken, his face transforming.

Meanwhile, in the family’s apartment in Miami, Baka forced herself to watch the broadcast. She could see it in his swollen eyes. Something was off.

After the final round, Perez raised his tattooed arms in victory, and Mago wandered off in a fog. He had taken 312 punches in about 40 minutes, for a purse of $40,000.

 

 

In the locker room, doctors sutured a cut above Mago’s left eye and tested his cognitive abilities. He did not do well. The ambulance that waits in expectation at every fight was not summoned by boxing officials.

Blood was pooling in Mago’s cranial cavity as he left the Garden. He vomited on the pavement while his handlers flagged a taxi to St. Luke’s-Roosevelt Hospital. There, doctors induced a coma and removed part of his skull to drain fluids and ease the swelling.

Then came the stroke.

 

Photo
 
A championship belt belonging to Abdusalamov and a card from one of his daughters. Credit Ángel Franco/The New York Times

 

It is lunchtime now, and the aroma of puréed beef and potatoes lingers. So do the questions.

How will Mago and Baka pay the $2 million in medical bills they owe? What if their friend can no longer offer them this home? Will they win their lawsuits against the five ringside doctors, the referee, and a New York State boxing inspector? What about Mago’s future care?

Most of all: Is this it?

A napkin rests on Mago’s chest. As another spoonful of mush approaches, he opens his mouth, half-swallows, chokes, and coughs until it clears. Eh-eh-eh. Sometimes he turns bluish, but Baka never shows fear. Always happy for Mago.

Some days he is wheeled out for physical therapy or speech therapy. Today, two massage therapists come to knead his half-limp body like a pair of skilled corner men.

Soon, Mago will doze. Then his three daughters, ages 2, 6 and 9, will descend upon him to talk of their day. Not long ago, the oldest lugged his championship belt to school for a proud show-and-tell moment. Her classmates were amazed at the weight of it.

Then, tonight, there will be more puréed food and pulverized medication, more coughing, and more tender care from his wife, before sleep comes.

Goodbye, Mago.

He half-smiles, raises his one good hand, and forms a fist.

Joseph Lechleider

Mr. Lechleider helped invent DSL technology, which enabled phone companies to offer high-speed web access over their infrastructure of copper wires.

A lapsed seminarian, Mr. Chambers succeeded Saul Alinsky as leader of the social justice umbrella group Industrial Areas Foundation.

UNITED NATIONS — Wearing pinstripes and a pince-nez, Staffan de Mistura, the United Nations envoy for Syria, arrived at the Security Council one Tuesday afternoon in February and announced that President Bashar al-Assad had agreed to halt airstrikes over Aleppo. Would the rebels, Mr. de Mistura suggested, agree to halt their shelling?

What he did not announce, but everyone knew by then, was that the Assad government had begun a military offensive to encircle opposition-held enclaves in Aleppo and that fierce fighting was underway. It would take only a few days for rebel leaders, having pushed back Syrian government forces, to outright reject Mr. de Mistura’s proposed freeze in the fighting, dooming the latest diplomatic overture on Syria.

Diplomacy is often about appearing to be doing something until the time is ripe for a deal to be done.

 

 

Now, with Mr. Assad’s forces having suffered a string of losses on the battlefield and the United States reaching at least a partial rapprochement with Mr. Assad’s main backer, Iran, Mr. de Mistura is changing course. Starting Monday, he is set to hold a series of closed talks in Geneva with the warring sides and their main supporters. Iran will be among them.

In an interview at United Nations headquarters last week, Mr. de Mistura hinted that the changing circumstances, both military and diplomatic, may have prompted various backers of the war to question how much longer the bloodshed could go on.

“Will that have an impact in accelerating the willingness for a political solution? We need to test it,” he said. “The Geneva consultations may be a good umbrella for testing that. It’s an occasion for asking everyone, including the government, if there is any new way that they are looking at a political solution, as they too claim they want.”

He said he would have a better assessment at the end of June, when he expects to wrap up his consultations. That coincides with the deadline for a final agreement in the Iran nuclear talks.

Advertisement

Whether a nuclear deal with Iran will pave the way for a new opening on peace talks in Syria remains to be seen. Increasingly, though, world leaders are explicitly linking the two, with the European Union’s top diplomat, Federica Mogherini, suggesting last week that a nuclear agreement could spur Tehran to play “a major but positive role in Syria.”

It could hardly come soon enough. Now in its fifth year, the Syrian war has claimed 220,000 lives, prompted an exodus of more than three million refugees and unleashed jihadist groups across the region. “This conflict is producing a question mark in many — where is it leading and whether this can be sustained,” Mr. de Mistura said.

Part Italian, part Swedish, Mr. de Mistura has worked with the United Nations for more than 40 years, but he is more widely known for his dapper style than for any diplomatic coups. Syria is by far the toughest assignment of his career — indeed, two of the organization’s most seasoned diplomats, Lakhdar Brahimi and Kofi Annan, tried to do the job and gave up — and critics have wondered aloud whether Mr. de Mistura is up to the task.

He served as a United Nations envoy in Afghanistan and Iraq, and before that in Lebanon, where a former minister recalled, with some scorn, that he spent many hours sunbathing at a private club in the hills above Beirut. Those who know him say he has a taste for fine suits and can sometimes speak too soon and too much, just as they point to his diplomatic missteps and hyperbole.

They cite, for instance, a news conference in October, when he raised the specter of Srebrenica, where thousands of Muslims were massacred in 1995 during the Balkans war, in warning that the Syrian border town of Kobani could fall to the Islamic State. In February, he was photographed at a party in Damascus, the Syrian capital, celebrating the anniversary of the Iranian revolution just as Syrian forces, aided by Iran, were pummeling rebel-held suburbs of Damascus; critics seized on that as evidence of his coziness with the government.

Mouin Rabbani, who served briefly as the head of Mr. de Mistura’s political affairs unit and has since emerged as one of his most outspoken critics, said Mr. de Mistura did not have the background necessary for the job. “This isn’t someone well known for his political vision or political imagination, and his closest confidants lack the requisite knowledge and experience,” Mr. Rabbani said.

As a deputy foreign minister in the Italian government, Mr. de Mistura was tasked in 2012 with freeing two Italian marines detained in India for shooting at Indian fishermen. He made 19 trips to India, to little effect. One marine was allowed to return to Italy for medical reasons; the other remains in India.

He said he initially turned down the Syria job when the United Nations secretary general approached him last August, only to change his mind the next day, after a sleepless, guilt-ridden night.

Mr. de Mistura compared his role in Syria to that of a doctor faced with a terminally ill patient. His goal in brokering a freeze in the fighting, he said, was to alleviate suffering. He settled on Aleppo as the location for its “fame,” he said, a decision that some questioned, considering that Aleppo was far trickier than the many other lesser-known towns where activists had negotiated temporary local cease-fires.

“Everybody, at least in Europe, are very familiar with the value of Aleppo,” Mr. de Mistura said. “So I was using that as an icebreaker.”

The cease-fire negotiations, to which he had devoted six months, fell apart quickly because of the government’s military offensive in Aleppo the very day of his announcement at the Security Council. Privately, United Nations diplomats said Mr. de Mistura had been manipulated. To this, Mr. de Mistura said only that he was “disappointed and concerned.”

Tarek Fares, a former rebel fighter, said after a recent visit to Aleppo that no Syrian would admit publicly to supporting Mr. de Mistura’s cease-fire proposal. “If anyone said they went to a de Mistura meeting in Gaziantep, they would be arrested,” is how he put it, referring to the Turkish city where negotiations between the two sides were held.

Secretary General Ban Ki-moon remains staunchly behind Mr. de Mistura’s efforts. His defenders point out that he is at the center of one of the world’s toughest diplomatic problems, charged with mediating a conflict in which two of the world’s most powerful nations — Russia, which supports Mr. Assad, and the United States, which has called for his ouster — remain deadlocked.

R. Nicholas Burns, a former State Department official who now teaches at Harvard, credited Mr. de Mistura for trying to negotiate a cease-fire even when the chances of success were exceedingly small — and the chances of a political deal even smaller. For his efforts to work, Professor Burns argued, the world powers will first have to come to an agreement of their own.

“He needs the help of outside powers,” he said. “It starts with backers of Assad. That’s Russia and Iran. De Mistura is there, waiting.”

Hired in 1968, a year before their first season, Mr. Fanning spent 25 years with the team, managing them to their only playoff appearance in Canada.

Pronovost, who played for the Red Wings, was not a prolific scorer, but he was a consummate team player with bruising checks and fearless bursts up the ice that could puncture a defense.