Agen Tiket Pesawat di Kutai

Agen Tiket Pesawat di Kutai Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Kutai

Agen Tiket Pesawat di Malang

Agen Tiket Pesawat di Malang Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Malang

Agen Tiket Pesawat di Yogyakarta

Agen Tiket Pesawat di Yogyakarta Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Yogyakarta

Agen Tiket Pesawat di Bandung

Agen Tiket Pesawat di Bandung Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Bandung

Agen Tiket Pesawat di Pontianak

Agen Tiket Pesawat di Pontianak Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Pontianak

Agen Tiket Pesawat di Samarinda

Agen Tiket Pesawat di Samarinda Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Samarinda

Agen Tiket Pesawat di Palembang

Agen Tiket Pesawat di Palembang Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Palembang

Jakarta, Saco-Indonesia.com — Buktikn kalau memang ada mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, memiliki bukti keterlibatan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam kasus Hambalang, maka Komisi Pemberantasan Korupsi menantangnya menyerahkan bukti itu.

Jakarta, Saco-Indonesia.com — Buktikn kalau memang ada mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, memiliki bukti keterlibatan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam kasus Hambalang, maka Komisi Pemberantasan Korupsi menantangnya menyerahkan bukti itu.

"Jangan kemudian hanya menjanjikan, tapi hanya terus berjanji, karena menyerahkan itu bukan sesuatu yang sulit kalau barangnya ada," kata Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Rabu (5/2/2014) malam.

Bambang mengatakan, KPK pasti akan menindaklanjuti pernyataan Anas sepanjang didukung bukti yang valid. "Tapi kalau barangnya di-ada-ada-kan, itu lain lagi. Saya berprasangka baik saja. Kalau memang ada, segera serahkan, jangan sampai itu berpolemik," imbuh Bambang.

Pengacara Anas, Adnan Buyung Nasution, mengatakan kliennya itu sudah menyampaikan kepada penyidik KPK mengenai peran Ibas dalam Kongres Partai Demokrat pada 2010. Adnan menyampaikan hal itu di sela-sela waktu pemeriksaan Anas, Rabu.

Dalam kongres tersebut, Ibas bertindak sebagai steering committee atau panitia pengarah. Pengacara lain Anas, Firman Wijaya, juga mengatakan bahwa Anas memiliki bukti foto yang menunjukkan keterlibatan pihak lain.

Saat dikonfirmasi apakah benar Anas menyampaikan peran Ibas dalam kongres partai tersebut kepada penyidik KPK, Bambang mengatakan, dia akan mengeceknya dulu kepada tim penyidik. Selaku pimpinan KPK, Bambang tidak terlibat langsung dalam proses pemeriksaan saksi atau tersangka.

Sepengetahuan Bambang, pada pemeriksaan Anas pekan lalu, pertanyaan penyidik KPK yang diajukan kepada Anas belum masuk materi kasus yang akan menjadi materi dakwaan. "Yang saya tahu minggu lalu itu proses pemeriksaannya baru menyangkut hal-hal yang mendasar sekali, belum masuk di materi. Hari ini saya dengar dari teman-teman sudah masuk," kata dia.

Bambang juga mengatakan, KPK tidak akan langsung memeriksa Ibas sebagai saksi jika keterangan Anas hanya sebatas peran Ibas sebagai steering committee (SC). Menurut Bambang, seseorang akan diperiksa sebagai saksi jika orang itu disebutkan memiliki peran yang dapat membuktikan keterlibatan tersangka dalam kasus yang disidik KPK.

"Cuma kalau keterangannya bahwa Ibas adalah SC, itu kan semua orang juga sudah tahu, apa lagi yang dipersoalkan soal itu?" tanya Bambang.

KPK menetapkan Anas sebagai tersangka atas dugaan menerima pemberian hadiah atau janji terkait proyek Hambalang dan proyek lainnya. Diduga, Anas menerima uang dari kontraktor proyek Hambalang untuk membiayai pemenangannya dalam Kongres Partai Demokrat 2010.

Sumber :Kompas.com

Editor : Maulana Lee

Sejak dulu sampai kini minyak ikan sudah diketahui baik untuk kesehatan otak.

Saco-Indonesia.com - Sejak dulu sampai kini minyak ikan sudah diketahui baik untuk kesehatan otak. Namun penelitian terbaru yang dipublikasikan Januari 2014 kemarin mengungkap bahwa minyak ikan tak hanya menyehatkan otak tetapi juga mencegah terjadinya penciutan volume otak.

Ketika usia bertambah, volume otak biasanya akan menciut. Namun penciutan otak juga bisa menandakan penyakit yang berkaitan dengan kesehatan mental, atau penyakit otak seperti Alzheimer dan lainnya. Dengan begitu hasil penelitian ini menunjukkan harapan bahwa minyak ikan bisa mencegah penciutan otak terkait penyakit tersebut.

Hasil ini didapatkan peneliti setelah melakukan penelitian selama delapan tahun. Mereka melakukan scan MRI pada 1.111 wanita yang sudah lanjut usia. Selain itu peneliti juga mengukur jumlah asam lemak omega-3 pada sel darah merah mereka. Setelah delapan tahun, peneliti kemudian mengukur volume otak partisipan yang sudah berusia 78 tahun.

Mereka menemukan bahwa wanita yang memiliki tingkat omega-3 tinggi juga memiliki volume otak yang lebih besar setelah delapan tahun. Tingkat asam lemak omega-3 yang tinggi bisa didapatkan melalui diet atau suplemen. Efeknya dalam beberapa waktu bisa mencegah kematian beberapa sel otak yang disebabkan usia, ungkap ketua peneliti James V Pottala, seperti dilansir oleh Daily Health Post (07/03).

Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa mengonsumsi banyak asam lemak omega tiga berkaitan dengan volume hippocampus otak yang lebih besar hingga 2,7 persen. Bagian otak tersebut berkaitan dengan kemampuan seseorang mengingat.

Asam lemak omega-3 banyak didapatkan dari minyak ikan. Jadi jangan ragu untuk mengonsumsi suplemen atau minyak ikan untuk memenuhi asupan omega-3 dan mencegah penciutan pada otak Anda.

 

Sumber :Kompas.com

Editor : Maula Lee

saco-indonesia.com, Pemerintah telah memberikan bantuan dana pendidikan buat para pelajar dan mahasiswa korban letusan Gunung Si

saco-indonesia.com, Pemerintah telah memberikan bantuan dana pendidikan buat para pelajar dan mahasiswa korban letusan Gunung Sinabung, Sumatera Utara. Beasiswa tersebut akan diberikan setelah 7 Februari melalui Dinas Pendidikan Karo.

Penerima dana bantuan itu telah disesuaikan dengan statusnya. Untuk 2.815 siswa SD masing-masing telah dapat Rp 450.000, 2.052 siswa SMP Rp 750.000, 1.141 siswa SMA Rp 1 juta, dan mahasiswa Rp 2,5 juta. Namun khusus mahasiswa jumlahnya masih harus didata.

"Kemendikbud juga akan memberikan bantuan seragam sekolah, buku pelajaran, perlengkapan sekolah, trauma konseling dll," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui akun twitternya.

"Distribusi bantuan juga akan dilakukan menggunakan rekening (buku tabungan)yang difasilitasi BPD Sumut," tambahnya.

Selain itu, menurut Sutopo, BNPB juga sudah mengambil langkah untuk dapat menindaklanjuti perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam penanganan dampak erupsi Gunung Sinabung.

"BNPB sewa 38 jambur untuk dapat menipiskan jumlah pengungsi di bbrp jambur yang pengungsinya padat. Ini dilakukan agar para pengungsi lebih nyaman," tandasnya.


Editor : Dian Sukmawati

    saco-indonesia.com,     Hei pujaan hati apa kabarmu     Ku harap kau baik-b

    saco-indonesia.com,

    Hei pujaan hati apa kabarmu
    Ku harap kau baik-baik saja
    Pujaan hati andai kau tahu
    Ku sangat mencintai dirimu

    [*]
    Hei pujaan hati setiap malam
    Aku berdoa kepada sang Tuhan
    Berharap cintaku jadi kenyataan
    Agar ku tenang meniti kehidupan

    Hei pujaan hati, pujaan hati
    Pujaan hati, pujaan hati

    [**]
    Mengapa kau tak membalas cintaku
    Mengapa engkau abaikan rasaku
    Ataukah mungkin hatimu membeku
    Hingga kau tak pernah pedulikan aku

    Cobalah mengerti keadaanku
    Dan cobalah pahami keinginanku
    Ku ingin engkau menjadi milikku
    Lengkapi jalan cerita hidupku

    Hei pujaan hati, pujaan hati

    Back to [*]

    Hei pujaan hati, pujaan hati
    Pujaan hati, pujaan hati

    Back to [**]


    Editor : Dian Sukmawati

 

Sesuai jadwal kampanye yang telah dikeluarkan oleh KPUD Manado, Partai Demokrat (PD) seharusnya melakukan kampanye terbuka untuk dapat menggalang massa pemilu pada Senin (17/3). Namun beberapa Caleg partai berlambang segitiga mercy ini malah terlihat di acara kawin massal yang telah digelar oleh Pemkot Manado.

Sesuai jadwal kampanye yang telah dikeluarkan oleh KPUD Manado, Partai Demokrat (PD) seharusnya melakukan kampanye terbuka untuk dapat menggalang massa pemilu pada Senin (17/3). Namun beberapa Caleg partai berlambang segitiga mercy ini malah terlihat di acara kawin massal yang telah digelar oleh Pemkot Manado.

Dua caleg Partai Demokrat , Jackson Kumaat untuk DPR-RI dan Stella Pakaya untuk DPRD Kota Manado, bahkan telah menjadi saksi pada acara nikah massal itu. Ritual religius tersebut pun mengeluarkan 'aroma' politik.

Salah seorang Panwaslu Manado, Issac Yusuf kepada sejumlah wartawan menyatakan bahwa sesuai jadwal, seharusnya PD telah melakukan kampanye terbuka Senin kemarin.

"Sayang waktu yang disediakan tidak dimanfaatkan dengan baik," ucap Issac Yusuf.

Terkait adanya dugaan pelanggaran yang terjadi dalam acara nikah massal yang mempersatukan 33 pasang pengantin ini, dirinya juga mengatakan masih akan dibicarakan dalam internal Panwas.

"Untuk hal tersebut masih akan kami bicarakan dalam rapat," ujar Issac.

Wali kota Manado Vecky Lumentut menepis jika acara yang digelar Pemkot ini telah dikaitkan dengan agenda partai meski atribut dan nuansa biru khas PD terlihat digunakan beberapa Caleg.

"Acara ini bukan acara partai, jadi setiap orang berhak datang di sini jika mengetahuinya," tegas Lumentut yang juga Ketua Partai Demokrat Sulut kepada wartawan.

saco-indonesia.com, Polisi masih akan memburu pembunuh Dedi Sulaiman yang berusia 48 tahun , yang telah ditemukan tewas dalam ke

saco-indonesia.com, Polisi masih akan memburu pembunuh Dedi Sulaiman yang berusia 48 tahun , yang telah ditemukan tewas dalam keadaan luka sayatan pada bagian kantong kelaminya di Jalan Anggrek, RT 02/03, Kel. Cisalak Pasar, Kec.Cimanggis Kota Depok.

Menurut Kapolsek Cimanggis, Kompol Bambang Irianto SH, pihaknya juga telah membentuk tim khusus untuk dapat mengejar pelaku. “Pelaku kita perkirakan berjumlah dua orang, dan sekarang anggota masih mengejarnya di daerah Lampung,”ujar Kapolsek.

Kapolsek juga mengatakan, korban diduga dibunuh oleh rekanan sesama jenis. “Dugaan kita pembunuh korban seorang waria,”katanya.

“Sejumlah keterangan saksi yaitu dua orang saudaranya yang pertama kali telah menemukan yaitu Tanti dan Cindy sudah kita ambil keterangannya,”terang kapolsek.

Seperti yang telah diketahui, korban dikenal rentenir ini pertama kali ditemukan seorang kerabat, Rabu 22 Januari lalu yang berniat mengantar undangan pernikahan. Saat itu (ditemukan), korban dalam posisi terlentang dalam balutan kaos hitam serta sarung motif kotak-kotak warna biru. Pada tubuh korban juga ditemukan sejumlah bekas luka, seperti sisa sundutan rokok serta lembam di wajah.


Editor : Dian Sukmawati

Tips pilih dan pasang Antena TV yang baik - Gambar jernih bersih tidak berbintik suara jelas dan tidak ada gemuruh, Gambar TV ka

Tips pilih dan pasang Antena TV yang baik - Gambar jernih bersih tidak berbintik suara jelas dan tidak ada gemuruh, Gambar TV kabur / buram tidak jelas, suara stereo kadang muncul kadang menghilang, tidak semua chanel bisa ditangkap dikarenakan sinyal yang telah diterima lemah.

Mempunyai pesawat televisi dirumah bisa dikatakan kebutuhan sebagai media elektronik untuk bisa mendapatkan informasi seperti berita, hiburan seperti mendengarkan lagu-lagu dan juga menyaksikan film-film seru, komedi dan lain sebagainya sedikit mengurangi stress, nah bagaimana jika ada acara tv favorit kita tiba-tiba tidak bisa ditonton dengan sempurna dilayar tv banyak bintik-bintiknya alias semutnya, suaranya seperti ada hujan atau gemuruhnya, dibilang tvnya rusak tidak juga tetapi rusaknya ada di antena yang tidak tepat, apapun penyebabnya anda pasti akan jengkel dan kesal disaat anda ingin menyaksikan acara kesayangan favorit anda siarannya bermasalah.

postingan kali ini sedikit berbagi seputar tips memasang memilih antena tv yang benar, untuk bisa mendapatkan kualitas gambar serta suara yang bagus jernih dan bersih, sebelum ke tips memasang dan memilih antena tv yang bagus buat anda sedikit celotehku pandangan dari saya seputar antena.

Antena

Sebelum membeli antena sebaiknya ketahui terlebih dahulu antena yang hendak digunakan, Secara umum antena yang sering digunakan pada televisi antena,antena indor dan outdor, perbedaan dari kedua antena terletak dari penempatan dan bentuknya, untuk antena indor biasanya ditempatkan didalam ruangan tidak jauh dari pesawat televisi itu sendiri, seperti contoh antena bawaan televisi yang bisa ditarik-tarik atau yang berbentuk lingkaran, sebagai tambahan informasi saja seputar polaradiasi untuk antena.

Antena outdor karena penempatannya diluar rumah dan bentuk antena outdor umumnya besar membutuhkan tiang penyanggah yang tinggi guna untuk mendapatkan sinyal yang sangat lebih kuat.

Sebenarnya untuk antena tv bisa dibuat sendiri dengan menggunakan bahan bekas, dimana antena tv indor dibuat dengan menggunakan bahan bekas plat (nopol motor).

Peyebab kualitas gambar dan suara tidak bersih pada pesawat televisi.
kualitas gambar dan suara yang tidak sempurna disebabkan karena penerimaan sinyal pancaran dari relay stasiun tv lemah,

terlepas dari faktor penyebab secara teknis (kerusakan dari pesawat tvnya), peyebab umum dari antena, karena antena telah memiliki perenan sangat penting untuk bisa menangkap frekuensi yang diterima.

Untuk Pesawat televisi LED juga LCD biasanya bintik dan suara gemuruh akan lebih terlihat dan terdengar jelas, jika dibandingkan dengan pesawat televisi dengan menggunakan tabung crt, mungkin disebabkan besar resolusinya yang berbeda, agar gambar yang dihasilkan jernih setara kualitas dvd, bahkan ada yang menggunakan jaringan tv kabel atau menggunakan antena parabola untuk gambar yang jernih.

Ketahui posisi letak sebelum mememilih antena.
Antena yang dapat dipergunakan umumnya antena indor, antena outdor (yagi) antena parabola, untuk penggunaan antena indor seperti antena bawaan tv bisanya bisa dipergunakan didaerah yang dekat dengan pemancar tv atau relay tvnya, dikota-kota, sedangkan antena outdor seperti antena arahan yagi untuk posisi jauh dari pemancar pesawat televisi dan mengarahkan buntut / ujung antena ke stasiun relay tv. untuk indor dan outdor tergantung jarak juga posisi letak antena, sedangkan antena parabola tidak harus mengarahkan antena secara horizontal, melainkan mengarahkan antena ke satelit langsung tanpa melalui relay pemancar stasiun tv lagi.

Memilih antena outdor yang bagus.
Kita sudah menggunakan antena luar dipasang tinggi hingga 10 meter lebih tapi ada beberapa siaran tv yang tidak jernih atau hanya satu dua siaran saja yang bersih, hal tersebut disebabkan jaraknya mungkin jauh juga bisa posisi arah antena tidak tepat disiaran tv yang tidak jernih tersebut. untuk dapat mensiasatinya sebaiknya gunakan antena yang mengunakan rotor hingga posisi antena bisa diarahkan.

antena tv rotator bergerak berputar
Gambar antena yagi yang dapat digerakkan / berputar

Gunakan penguat sinyal Boster TV
Seperti gambar antena yagi diatas yang dapat digerakkan untuk dapat menyesuaikan posisi arah antena agar tepat kestasiun relay tv, beberapa tahun sebelumnya gambar tv akan jernih jika antena dilengkapi dengan boster guna untuk menguatkan sinyal yang ditangkap oleh antena sebelum dikirim kepasawat televisi.

Kabel Coaxial Antena
Terkadang kita anggap remeh dengan media hantar kabel yang digunakan untuk antena, umumnya kabel antena menggunakan impedansi 75 ohm untuk pesawat televisi sedangkan untuk pesawat radio biasanya menggunakan impedansi 50 ohm kabel coaxial. gunakanlah kabel coaxial yang baik, kabel coaxial yang baik akan mengurangi lose sinyal, dan lebih tahan dengan cuaca hujan dan panas saat dipasang diluar ruangan, 

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

Pronovost, who played for the Red Wings, was not a prolific scorer, but he was a consummate team player with bruising checks and fearless bursts up the ice that could puncture a defense.

The bottle Mr. Sokolin famously broke was a 1787 Château Margaux, which was said to have belonged to Thomas Jefferson. Mr. Sokolin had been hoping to sell it for $519,750.

Public perceptions of race relations in America have grown substantially more negative in the aftermath of the death of a young black man who was injured while in police custody in Baltimore and the subsequent unrest, far eclipsing the sentiment recorded in the wake of turmoil in Ferguson, Mo., last summer.

Americans are also increasingly likely to say that the police are more apt to use deadly force against a black person, the latest New York Times/CBS News poll finds.

The poll findings highlight the challenges for local leaders and police officials in trying to maintain order while sustaining faith in the criminal justice system in a racially polarized nation.

Sixty-one percent of Americans now say race relations in this country are generally bad. That figure is up sharply from 44 percent after the fatal police shooting of Michael Brown and the unrest that followed in Ferguson in August, and 43 percent in December. In a CBS News poll just two months ago, 38 percent said race relations were generally bad. Current views are by far the worst of Barack Obama’s presidency.

The negative sentiment is echoed by broad majorities of blacks and whites alike, a stark change from earlier this year, when 58 percent of blacks thought race relations were bad, but just 35 percent of whites agreed. In August, 48 percent of blacks and 41 percent of whites said they felt that way.

Looking ahead, 44 percent of Americans think race relations are worsening, up from 36 percent in December. Forty-one percent of blacks and 46 percent of whites think so. Pessimism among whites has increased 10 points since December.

Continue reading the main story
Do you think race relations in the United States are generally good or generally bad?
60
40
20
0
White
Black
May '14
May '15
Generally bad
Continue reading the main story
Do you think race relations in the United States are getting better, getting worse or staying about the same?
Getting worse
Staying the same
Getting better
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
44%
37
17
46
36
16
41
42
15

The poll finds that profound racial divisions in views of how the police use deadly force remain. Blacks are more than twice as likely to say police in most communities are more apt to use deadly force against a black person — 79 percent of blacks say so compared with 37 percent of whites. A slim majority of whites say race is not a factor in a police officer’s decision to use deadly force.

Overall, 44 percent of Americans say deadly force is more likely to be used against a black person, up from 37 percent in August and 40 percent in December.

Blacks also remain far more likely than whites to say they feel mostly anxious about the police in their community. Forty-two percent say so, while 51 percent feel mostly safe. Among whites, 8 in 10 feel mostly safe.

One proposal to address the matter — having on-duty police officers wear body cameras — receives overwhelming support. More than 9 in 10 whites and blacks alike favor it.

Continue reading the main story
How would you describe your feelings about the police in your community? Would you say they make you feel mostly safe or mostly anxious?
Mostly safe
Mostly anxious
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
75%
21
3
81
16
3
51
42
7
Continue reading the main story
In general, do you think the police in most communities are more likely to use deadly force against a black person, or more likely to use it against a white person, or don’t you think race affects police use of deadly force?
Police more likely to use deadly force against a black person
Police more likely to use deadly force against a white person
Race DOES NOT affect police use of deadly force
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
44%
37%
79%
2%
2%
1%
46%
53%
16%
9%
8%
4%
Continue reading the main story
Do you favor or oppose on-duty police officers wearing video cameras that would record events and actions as they occur?
Favor
Oppose
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
92%
93%
93%
6%
5%
5%
2%
2%
2%

Asked specifically about the situation in Baltimore, most Americans expressed at least some confidence that the investigation by local authorities would be conducted fairly. But while nearly two-thirds of whites think so, fewer than half of blacks agree. Still, more blacks are confident now than were in August regarding the investigation in Ferguson. On Friday, six members of the police force involved in the arrest of Mr. Gray were charged with serious offenses, including manslaughter. The poll was conducted Thursday through Sunday; results from before charges were announced are similar to those from after.

Reaction to the recent turmoil in Baltimore, however, is similar among blacks and whites. Most Americans, 61 percent, say the unrest after Mr. Gray’s death was not justified. That includes 64 percent of whites and 57 percent of blacks.

Continue reading the main story
As you may know, a Baltimore man, Freddie Gray, recently died after being in the custody of the Baltimore police. How much confidence do you have that the investigation by local authorities into this matter will be conducted fairly?
A lot
Some
Not much
None at all
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
29%
31
22
14
5
31
33
20
11
5
20
26
30
22
In general, do you think the unrest in Baltimore after the death of Freddie Gray was justified, or do you think the unrest was not justified?
Justified
Not justified
Don't know/No answer
All adults
Whites
Blacks
28%
61
11
26
64
11
37
57
6

BALTIMORE — In the afternoons, the streets of Locust Point are clean and nearly silent. In front of the rowhouses, potted plants rest next to steps of brick or concrete. There is a shopping center nearby with restaurants, and a grocery store filled with fresh foods.

And the National Guard and the police are largely absent. So, too, residents say, are worries about what happened a few miles away on April 27 when, in a space of hours, parts of this city became riot zones.

“They’re not our reality,” Ashley Fowler, 30, said on Monday at the restaurant where she works. “They’re not what we’re living right now. We live in, not to be racist, white America.”

As Baltimore considers its way forward after the violent unrest brought by the death of Freddie Gray, a 25-year-old black man who died of injuries he suffered while in police custody, residents in its predominantly white neighborhoods acknowledge that they are sometimes struggling to understand what beyond Mr. Gray’s death spurred the turmoil here. For many, the poverty and troubled schools of gritty West Baltimore are distant troubles, glimpsed only when they pass through the area on their way somewhere else.

Photo
 
Officers blocked traffic at Pennsylvania and West North Avenues after reports that a gun was discharged in the area. Credit Drew Angerer for The New York Times

And so neighborhoods of Baltimore are facing altogether different reckonings after Mr. Gray’s death. In mostly black communities like Sandtown-Winchester, where some of the most destructive rioting played out last week, residents are hoping businesses will reopen and that the police will change their strategies. But in mostly white areas like Canton and Locust Point, some residents wonder what role, if any, they should play in reimagining stretches of Baltimore where they do not live.

“Most of the people are kind of at a loss as to what they’re supposed to do,” said Dr. Richard Lamb, a dentist who has practiced in the same Locust Point office for nearly 39 years. “I listen to the news reports. I listen to the clergymen. I listen to the facts of the rampant unemployment and the lack of opportunities in the area. Listen, I pay my taxes. Exactly what can I do?”

And in Canton, where the restaurants have clever names like Nacho Mama’s and Holy Crepe Bakery and Café, Sara Bahr said solutions seemed out of reach for a proudly liberal city.

“I can only imagine how frustrated they must be,” said Ms. Bahr, 36, a nurse who was out with her 3-year-old daughter, Sally. “I just wish I knew how to solve poverty. I don’t know what to do to make it better.”

The day of unrest and the overwhelmingly peaceful demonstrations that followed led to hundreds of arrests, often for violations of the curfew imposed on the city for five consecutive nights while National Guard soldiers patrolled the streets. Although there were isolated instances of trouble in Canton, the neighborhood association said on its website, many parts of southeast Baltimore were physically untouched by the tumult.

Tensions in the city bubbled anew on Monday after reports that the police had wounded a black man in Northwest Baltimore. The authorities denied those reports and sent officers to talk with the crowds that gathered while other officers clutching shields blocked traffic at Pennsylvania and West North Avenues.

Lt. Col. Melvin Russell, a community police officer, said officers had stopped a man suspected of carrying a handgun and that “one of those rounds was spent.”

Colonel Russell said officers had not opened fire, “so we couldn’t have shot him.”

Photo
 
Lambi Vasilakopoulos, right, who runs a casual restaurant in Canton, said he was incensed by last week's looting and predicted tensions would worsen. Credit Drew Angerer for The New York Times

The colonel said the man had not been injured but was taken to a hospital as a precaution. Nearby, many people stood in disbelief, despite the efforts by the authorities to quash reports they described as “unfounded.”

Monday’s episode was a brief moment in a larger drama that has yielded anger and confusion. Although many people said they were familiar with accounts of the police harassing or intimidating residents, many in Canton and Locust Point said they had never experienced it themselves. When they watched the unrest, which many protesters said was fueled by feelings that they lived only on Baltimore’s margins, even those like Ms. Bahr who were pained by what they saw said they could scarcely comprehend the emotions associated with it.

But others, like Lambi Vasilakopoulos, who runs a casual restaurant in Canton, said they were incensed by what unfolded last week.

“What happened wasn’t called for. Protests are one thing; looting is another thing,” he said, adding, “We’re very frustrated because we’re the ones who are going to pay for this.”

There were pockets of optimism, though, that Baltimore would enter a period of reconciliation.

“I’m just hoping for peace,” Natalie Boies, 53, said in front of the Locust Point home where she has lived for 50 years. “Learn to love each other; be patient with each other; find justice; and care.”

A skeptical Mr. Vasilakopoulos predicted tensions would worsen.

“It cannot be fixed,” he said. “It’s going to get worse. Why? Because people don’t obey the laws. They don’t want to obey them.”

But there were few fears that the violence that plagued West Baltimore last week would play out on these relaxed streets. The authorities, Ms. Fowler said, would make sure of that.

“They kept us safe here,” she said. “I didn’t feel uncomfortable when I was in my house three blocks away from here. I knew I was going to be O.K. because I knew they weren’t going to let anyone come and loot our properties or our businesses or burn our cars.”

A 214-pound Queens housewife struggled with a lifelong addiction to food until she shed 72 pounds and became the public face of the worldwide weight-control empire Weight Watchers.